Pasar mie instan Indonesia cukup ketat, salah satunya kategori mie goreng. Brand perlu mainkan beragam strategi agar menjadi pilihan konsumen, mulai dari Brand Ambassador, varian, hingga kemasan.
Brand legend Indonesia, Mie Sedaap menggandeng Afgan sebagai Brand Ambassador untuk varian Goreng dan Soto pada Juni 2026. Apakah kehadiran Afgan ikut mendorong penjualan Mie Sedaap di e-commerce?
Data MarketHac menunjukkan beberapa pergerakan menarik di pasar mie goreng dalam beberapa bulan terakhir. Mari kita bedah.
GMV Mie Sedaap Goreng Tumbuh Ketika Kompetitor Melesu
Mie Sedaap menjadi satu-satunya brand yang mencatat kenaikan GMV drastis, sementara brand lainnya mengalami penurunan. Momentum ini bertepatan dengan kehadiran Afgan sebagai Brand Ambassador Mie Sedaap Goreng.
Dari sisi market share, Indomie masih memimpin pasar mie goreng dengan 43,3% share GMV. Mie Sedaap berada di posisi berikutnya dengan 22,1% share GMV. Artinya, Mie Sedaap masih punya gap terhadap market leader, tapi pertumbuhan yang terjadi menandakan adanya momen menarik untuk dipertahankan.
Mie Goreng Kemasan Karton Makin Laris di E-Commerce
Di e-commerce, mie goreng dalam format karton/dus menjadi penyumbang GMV terbesar. Share GMV format ini meningkat dari 43,3% menjadi 53,5%, atau bertambah 10,2 percentage points (pp).
Format karton dapat dioptimalkan untuk konsumen yang ingin stocking produk sekaligus, terutama melalui penawaran yang menonjolkan value per unit dan kemudahan membeli dalam jumlah banyak.
Multi Varian Bisa Jadi Format yang Menarik untuk Dioptimalkan
Selain karton, kemasan Multi Varian menunjukkan performa yang relatif seimbang antara GMV dan unit sold. Pertumbuhan YoY-nya juga cenderung stabil.
Format ini menawarkan value yang berbeda. Konsumen dapat mencoba beberapa rasa dalam satu pembelian tanpa harus membeli banyak SKU secara terpisah.
Bagi brand dengan portofolio rasa yang luas, Multi Varian bisa dimanfaatkan untuk mendorong product discovery sekaligus mengenalkan varian lain kepada konsumen existing.
Strateginya dapat diperkuat melalui paket mix rasa, bundling eksklusif marketplace, atau paket trial yang menggabungkan hero product dengan varian tertentu.
Overall Market Mie Goreng Justru Sedang Tertekan
Di balik pertumbuhan Mie Sedaap, kondisi pasar mie goreng secara keseluruhan menunjukkan tren berbeda. Pada 2025, pasar masih relatif stabil. GMV Mei ke Juni hanya turun sekitar -0,15%. Namun pada 2026, tekanan pasar terlihat lebih besar. Penurunan GMV secara bulanan berada di kisaran -19,61% hingga -26,55%.
Kondisi tersebut membuat pertumbuhan Mie Sedaap semakin menarik untuk diperhatikan. Ketika pasar dan sejumlah kompetitor mengalami penurunan, brand ini mampu mencatat pertumbuhan GMV.
Kondisi pasar yang melemah berarti strategi penjualan perlu semakin selektif. Brand harus mengetahui format kemasan, momentum, dan channel mana yang punya peluang pertumbuhan.
Shopee dan TikTok x Tokopedia Perlu Diprioritaskan
Dari sisi channel, Shopee dan TikTok x Tokopedia sama-sama menunjukkan performa kuat untuk kategori mie goreng.
Shopee dapat dipertahankan sebagai channel penting untuk menjangkau konsumen yang sudah memiliki purchase intent dan mencari produk secara langsung. Sementara itu, TikTok x Tokopedia layak mendapat perhatian lebih untuk mengejar pertumbuhan sales karena mencatat pertumbuhan GMV yang lebih tinggi.
Brand dapat mengombinasikan kekuatan keduanya. Shopee dapat dimaksimalkan melalui pencarian, promo, dan paket stocking, sedangkan TikTok x Tokopedia bisa diperkuat melalui content commerce, affiliate, dan campaign yang memanfaatkan figur seperti Brand Ambassador.
Penasaran dengan data mie instant varian tertentu? Klik di sini untuk dapatkan datanya.




