Dalam beberapa tahun terakhir, brand popok bayi di Indonesia berlomba menghadirkan inovasi, mulai dari daya serap, kenyamanan, hingga material yang ramah untuk kulit bayi.
Salah satu brand yang cukup mencuri perhatian adalah Makuku. Sejak hadir pada Mei 2021, Makuku memperkenalkan popok dengan teknologi SAP (Super Absorbent Polymer), teknologi yang mampu menyerap cairan tinggi dan menjaga popok tetap kering dalam jangka waktu yang lama. Inovasi tersebut membuat Makuku cepat dikenal dan menjadi salah satu pilihan banyak orang tua.
Lantas, apakah teknologi SAP menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan penjualan Makuku?
Makuku Berhasil Tembus Top 3 Pasar Popok Bayi
Meski tergolong baru, performa Makuku di e-commerce menunjukkan perkembangan yang sangat cepat. Berdasarkan data Markethac, GMV Makuku tumbuh hingga +177%, sehingga berhasil membawa brand ini masuk ke jajaran Top 3 brand popok bayi di Indonesia. Namun, pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Pada Q2, Unit Sold Makuku mengalami pelemahan, sementara Average Selling Price (ASP)-nya meningkat. Kondisi ini menandakan, kenaikan GMV dipengaruhi oleh harga jual yang tinggi, bukan jumlah unit sold.
TikTok x Tokopedia Jadi Core Driver Pertumbuhan Makuku
Data menunjukkan bahwa TikTok x Tokopedia menjadi channel dengan pertumbuhan tercepat hingga +177%, jauh melampaui channel lainnya. Dampaknya, pangsa GMV Makuku di TikTok x Tokopedia meningkat sekitar 15–20%.
Sementara itu, Shopee masih menjadi channel dengan GMV terbesar meski laju pertumbuhannya belum mampu menyamai TikTok x Tokopedia. Insight ini menunjukkan bahwa distribusi channel menjadi salah satu faktor penting dalam memenangkan persaingan pasar popok bayi.
Apakah Teknologi SAP Jadi Alasan Konsumen Membeli Produk?
Sebagai pelopor teknologi SAP di Indonesia, banyak yang menganggap inovasi ini menjadi alasan utama di balik pertumbuhan Makuku. Namun, data pasar menunjukkan cerita yang sedikit berbeda.
Bagi konsumen Makuku, teknologi SAP memang menjadi nilai tambah. Namun jika melihat kategori popok bayi secara keseluruhan, teknologi SAP bukan benefit yang diandalkan konsumen.
Faktanya, varian Comfort Fit yang mendominasi pasar dengan GMV yang hampir menyentuh Rp50 miliar, jauh di atas segmen SAP yang hanya sekitar Rp177,5 juta.
Pelajaran untuk Brand Popok Bayi
Dari Makuku, dapat dipelajari bahwa inovasi belum tentu cukup memenangkan pasar.
Brand juga perlu memastikan:
- Inovasi yang ditawarkan telah sesuai dengan kebutuhan konsumen.
- Pemilihan channel selalu mengikuti perilaku belanja konsumen.
- Strategi pricing mampu menyeimbangkan pertumbuhan GMV dan volume penjualan.
Ingin Tahu Strategi Kompetitor di Pasar Popok Bayi?
Markethac membantu brand mendapatkan insight pasar berbasis data e-commerce agar keputusan bisnis tidak bergantung pada asumsi. Hubungi Markethac dan lihat perkembangan brandmu di pasar popok bayi.




