Skip to content

Ready to win in 2027? Start early

Apple ‘Tutup Keran’ Toko Non-Resmi, Apa Dampaknya ke iPhone?

Source: markethac.id

Mulai 25 Mei 2026, Apple hanya mengalokasikan produknya ke Authorized Apple Retail (AAR) dan Multi Brand Apple Authorized Reseller (MBAAR). Kebijakan ini membuat banyak pelaku pasar bertanya-tanya apakah Apple sedang mengurangi peran toko non-resmi dalam distribusi produknya.

Namun jika melihat data pasar, keputusan tersebut sebenarnya mengikuti pola yang sudah lama terbentuk. Dalam lima bulan pertama 2026, pasar Apple Indonesia mencatat penjualan sekitar 260,9 ribu unit, dan 77,63% transaksi terjadi melalui toko authorized, sementara hanya 22,37% berasal dari toko lainnya. Dengan kata lain, sebagian besar konsumen sudah lebih dulu memilih channel resmi sebelum kebijakan ini diterapkan.

Mayoritas Penjualan Sudah Berasal dari Toko Authorized

Data menunjukkan bahwa channel resmi telah menjadi tulang punggung penjualan Apple di Indonesia. Dominasi sebesar 77,63% menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen terhadap toko authorized masih sangat kuat. Faktor seperti garansi resmi, keaslian produk, serta layanan purna jual menjadi alasan utama mengapa konsumen lebih memilih membeli melalui channel resmi.

Karena itu, kebijakan distribusi terbaru Apple kemungkinan tidak akan mengubah perilaku pasar secara signifikan. Sebaliknya, langkah tersebut tampak sebagai upaya memperkuat struktur distribusi yang memang sudah mendominasi penjualan.

Penurunan Penjualan Sudah Terjadi Sebelum Aturan Berlaku

Meski distribusi diperketat, tantangan terbesar Apple di Indonesia saat ini tampaknya bukan berasal dari channel penjualan. Penjualan di toko authorized sempat mencapai 54,2 ribu unit pada Maret 2026. Namun angka tersebut turun menjadi 32,9 ribu unit pada April, atau anjlok sekitar 39,2% dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan berlanjut pada Mei dengan penjualan hanya mencapai 29,4 ribu unit. Fakta ini menarik karena pelemahan sudah terjadi bahkan sebelum kebijakan distribusi baru diberlakukan pada akhir Mei. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar iPhone sedang menghadapi tantangan yang lebih besar dibanding sekadar perubahan jalur distribusi.

Apple ‘Tutup Keran’ Toko Non-Resmi, Apa Dampaknya ke iPhone?

Harga iPhone Naik Saat Permintaan Melambat

Di tengah pelemahan penjualan, harga iPhone justru menunjukkan tren kenaikan. Untuk iPhone 15 Basic, harga rata-rata di channel authorized naik dari Rp11,8 juta pada Januari menjadi sekitar Rp13,3 juta pada Mei. Kenaikan yang lebih ekstrem terjadi di channel non-authorized. Harga rata-rata melonjak dari Rp10,7 juta pada Maret menjadi Rp14,8 juta pada April, atau naik sekitar 39,16% hanya dalam satu bulan. Pada Mei, harga kembali meningkat hingga mencapai Rp17 juta.

Kombinasi harga yang semakin tinggi dan kondisi ekonomi yang membuat konsumen lebih berhati-hati berpotensi memperpanjang siklus upgrade smartphone. Banyak konsumen tampaknya memilih mempertahankan perangkat yang ada dibanding membeli model baru.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Perubahan Ini?

Data menunjukkan bahwa kebijakan distribusi Apple kemungkinan bukan faktor utama yang memengaruhi penjualan saat ini. Sebaliknya, perlambatan permintaan dan kenaikan harga menjadi faktor yang lebih penting untuk diperhatikan. Bagi brand, distributor, maupun retailer, memahami perubahan perilaku konsumen menjadi semakin penting di tengah kondisi pasar yang terus berubah.

Ingin mengetahui tren penjualan, market share, pricing, dan pergerakan kategori lainnya? Konsultasikan kebutuhan riset pasar Anda dengan Markethac.

Share This News


What’s New in E-Commerce

See More

Feedback on this news

Both fields are required.