Memasuki awal 2026, banyak seller e-commerce kembali bersentuhan dengan isu sensitif: biaya admin shopee yang mengalami penyesuaian. Di tengah persaingan harga yang semakin agresif dan ruang profit yang makin sempit, kabar ini kerap memicu kekhawatiran—mulai dari ancaman kenaikan harga jual hingga tekanan profitabilitas. Namun sebelum bereaksi terlalu cepat, seller perlu memahami perubahan yang terjadi, kategori mana yang paling terdampak, serta implikasinya terhadap arah strategi bisnis ke depan.
Apa yang Sebenarnya Berubah di 2026?
Sejak 1 Januari 2026, Shopee melakukan pembaruan skema biaya bagi seller yang tergabung dalam Program Star, Star+, hingga Shopee Mall. Penyesuaian biaya admin shopee ini tidak diberlakukan secara merata, melainkan disesuaikan berdasarkan kategori produk. Akibatnya, dua toko dengan omzet yang mirip bisa merasakan tekanan biaya yang sangat berbeda hanya karena berada di segmen yang berlainan. Pola ini menegaskan bahwa Shopee tengah merapikan struktur biaya shopee, bukan sekadar menaikkan tarif secara menyeluruh. Bagi seller, ini menjadi penanda bahwa pendekatan satu strategi untuk semua produk sudah tidak lagi relevan.
Kategori Ini Paling Terdampak, Seller Wajib Waspada
Jika ditelusuri lebih jauh, beberapa kategori tercatat menghadapi kenaikan biaya yang signifikan, terutama di segmen fashion, kebutuhan bayi & anak, serta produk kesehatan. Sementara itu, kategori tertentu seperti susu formula bayi non-vitamin dan vitamin & suplemen masih berada di level biaya yang relatif lebih rendah. Ketimpangan ini membuat dampak biaya admin shopee sangat bergantung pada kategori. Seller di segmen dengan biaya tinggi berisiko mengalami penurunan profit lebih cepat jika tidak segera menyesuaikan strategi harga maupun promo, termasuk cara mengelola potongan admin shopee yang kini makin terasa.
Naikkan Harga atau Efisiensi? Ini Dilema Seller
Saat biaya meningkat, respons paling instingtif adalah menaikkan harga jual. Sayangnya, langkah ini tidak selalu aman—terutama di kategori dengan persaingan ketat dan perang diskon aktif. Banyak seller justru kehilangan konversi akibat kenaikan harga yang terlalu agresif. Pendekatan yang lebih berkelanjutan adalah menata ulang struktur internal: memilih SKU prioritas, mengoptimalkan bundling, hingga menyesuaikan diskon agar tidak terjadi pemotongan ganda. Strategi ini membantu menjaga margin seller shopee tanpa membuat harga terlihat tidak kompetitif.
Seller Pintar Fokus ke Produk, Bukan Panik Global
Kesalahan yang kerap terjadi saat biaya naik adalah menerapkan satu kebijakan untuk semua produk. Padahal, setiap kategori memiliki sensitivitas harga dan pola belanja yang berbeda. Produk dengan pembelian berulang masih memiliki ruang penyesuaian tertentu, sementara produk impulse lebih efektif dipertahankan lewat variasi ukuran atau bundling. Dengan memisahkan analisis performa per SKU dan kategori, seller bisa mengidentifikasi produk mana yang masih sehat dan mana yang perlu penyesuaian. Pendekatan granular inilah yang membuat tekanan biaya bisa dikelola tanpa mengorbankan volume penjualan.
Pahami Dulu, Baru Ambil Keputusan
Perubahan biaya di Shopee seharusnya dibaca sebagai sinyal untuk naik level, bukan sekadar ancaman. Seller yang memahami detail kategori, performa SKU, dan perilaku konsumen justru punya peluang untuk tetap tumbuh di tengah penyesuaian. Alih-alih bereaksi spontan, keputusan berbasis data dan simulasi akan jauh lebih aman bagi keberlanjutan bisnis.
Ingin tahu bagaimana dampak biaya ini ke toko kamu secara spesifik dan strategi paling aman untuk menjaga profit? Klik di sini untuk terhubung dengan tim Markethac dan dapatkan analisis yang disesuaikan dengan kategori bisnismu.
