Blackmores Australia Diterpa Isu Overdosis, Bagaimana Nasib Penjualan Blackmores Indonesia?

Food and Beverage
•
•
Friday, Nov 28, 2025
Blackmores Australia Diterpa Isu Overdosis, Bagaimana Nasib Penjualan Blackmores Indonesia?
Source: https://markethac.id

Awal Juni 2025, ramai pemberitaan soal dugaan efek samping Blackmores Super Magnesium+ dari Australia menyebar cepat di media internasional. Kandungan vitamin B6 dalam produk itu disebut mencapai 29 kali lipat dari batas asupan harian. Kejadian ini langsung memicu diskusi tentang keamanan produk, terutama di pasar negara lain termasuk Indonesia. Pelaku industri pun mulai bertanya-tanya: apakah krisis reputasi ini ikut menggoyang kinerja penjualan Blackmores Indonesia?

Vitamin B6 Paling Terpukul, Konsumen Makin Teliti Baca Komposisi

Data Markethac menunjukkan bahwa dampak terbesar terjadi pada lini berbasis vitamin B6. Di Agustus 2025, penurunan GMV mencapai -63% untuk produk Blackmores Vitamin B6, disusul Blackmores Executive B Stress Formula di -34,47%. Angka ini menandakan perubahan pola pikir: konsumen tidak hanya membeli brand, tetapi juga membaca kandungan secara kritis. Untuk pelaku brand, tren ini berarti satu hal: narasi edukasi tentang keamanan formulasi sudah bukan pilihan, tapi keharusan, terutama bagi Blackmores Indonesia untuk menenangkan pasar lokal.
 

Multivitamin Stabil, Reputasi Jadi Modal Utama

Di sisi lain, efek krisis tidak menyebar ke semua lini produk Blackmores. Produk multivitamin Blackmores justru masih jadi juara pasar. Penjualan bulan Agustus 2025 justru mencatat kalau Blackmores Indonesia tetap No.1 di kategori Multivitamin, mengungguli Bio Squalene, Vitabumin, Xperboost, Nutrimax, hingga Interlac. Artinya, brand equity benar-benar bekerja ketika krisis muncul. Konsumen lama tetap percaya karena pengalaman positif yang konsisten. Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat positioning keamanan dan efektivitas produk, bukan hanya nama besar brand.

Peta Marketplace: Blibli Paling Solid untuk Transaksi

Ketika performa sales dipilah berdasarkan channel, gambarannya makin jelas. Pertumbuhan GMV marketplace di Blibli melonjak dari 14,80% ke 80,89% (Jul–Ags 2025), menjadikannya channel paling stabil untuk mendorong transaksi. Shopee justru bergerak sebaliknya: +16,03% di Juli berubah jadi -20,08% di Agustus. Sementara Tokopedia dan TikTok Shop tidak sebanyak Blibli dalam hal konversi, tapi masih efektif sebagai mesin awareness lewat kolaborasi affiliator dan live content. Untuk strategi brand, pendekatannya harus channel-specific, nggak bisa semua diperlakukan sama.

Saatnya Bukan Hanya Damage Control, Tapi Optimisasi Demand

Dengan multivitamin yang tetap unggul dan kepercayaan konsumen terhadap brand belum benar-benar runtuh, Blackmores Indonesia masih punya ruang besar untuk mengonversi awareness menjadi penjualan. Fokus narasi keamanan, transparansi kandungan, dan klaim berbasis sains bisa jadi strategi “pemulihan reputasi” yang smart, sekaligus mengunci loyalitas jangka panjang. Bila dieksekusi dengan tepat, krisis bisa berubah menjadi katalis penguatan positioning brand di kategori kesehatan harian.

Performa multivitamin Blackmores yang tetap kuat di tengah isu membuktikan satu hal: keputusan bisnis yang tepat datang dari insight, bukan asumsi. 

Melalui Markethac, brand bisa memonitor tren penjualan kategori produk, harga kompetitor, sampai perubahan demand di marketplace, semuanya dalam satu dashboard. Kalau mau tau brand kamu ada di posisi mana dibanding competitor, klik disini untuk dapat insightnya!