Skip to content

Bukan Dyson, Ini Hair Dryer Pilihan Konsumen Indonesia

Home Electronic
•
•
Wednesday, Jul 22, 2026
Bukan Dyson, Ini Hair Dryer Pilihan Konsumen Indonesia
Source: https://markethac.id

Memiliki hair tools Dyson mungkin sudah menjadi impian banyak pecinta styling rambut. Dengan teknologi canggih dan desain premium, Dyson berhasil membangun citra sebagai salah satu hair tools paling diidamkan. Namun, ketika waktunya checkout, pilihan konsumen ternyata berbeda.

Berdasarkan data Markethac periode April–Juni 2026, pasar hair dryer Indonesia mencatat nilai transaksi sebesar Rp123,1 miliar. Menariknya, produk premium bukan menjadi penyumbang terbesar. Justru, hair dryer dengan harga yang lebih terjangkau masih menjadi pilihan mayoritas konsumen.

Hair Dryer di Bawah Rp250 Ribu Kuasai 42% Pasar

Segmen harga di bawah Rp250 ribu menjadi kontributor terbesar dengan pangsa pasar 42,37%. Posisi ini menjadikannya sebagai segmen paling diminati dibandingkan rentang harga lainnya. 

Temuan ini menunjukkan bahwa harga masih menjadi salah satu faktor utama dalam keputusan pembelian. Meski produk premium memiliki daya tarik yang tinggi, mayoritas konsumen tetap mencari hair dryer yang mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih ramah di kantong.

Philips dan Samono Jadi Andalan di Segmen Berbeda

Bukan Dyson, Ini Hair Dryer Pilihan Konsumen Indonesia

Secara keseluruhan, Philips masih menjadi pemimpin pasar hair dryer dengan pangsa 13,09%. Dominasinya paling terlihat di segmen harga Rp250 ribu–Rp750 ribu, di mana Philips menguasai hampir sepertiga pasar (30,74%).

Sementara itu, Samono menjadi pilihan utama pada segmen di bawah Rp250 ribu. Meski market share keseluruhannya mencapai 7,64%, Samono berhasil memimpin di segmen dengan ukuran pasar terbesar. Hal ini menunjukkan bahwa strategi harga yang kompetitif masih menjadi faktor penting untuk memenangkan pasar massal.

Dyson Tetap Sulit Ditandingi di Kelas Premium

Meski bukan pemimpin pasar secara keseluruhan, Dyson tetap menunjukkan dominasinya di kategori premium. Pada segmen harga di atas Rp1,5 juta, Dyson menguasai 72,07% pangsa pasar, jauh meninggalkan pesaing terdekatnya, Dreame, yang hanya meraih 14,50%.

Sementara itu, pada segmen Rp750 ribu–Rp1,5 juta, Laifen berhasil memimpin dengan pangsa pasar 29,87%, mengungguli beberapa merek yang lebih mapan. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen kelas menengah atas mulai melirik alternatif yang menawarkan performa premium dengan harga yang lebih kompetitif.

Shopee Masih Jadi Kanal Penjualan Utama

Dari sisi kanal penjualan, Shopee masih menjadi platform utama dengan kontribusi 71,12% terhadap total nilai pasar. Posisi kedua ditempati oleh TikTok Shop x Tokopedia dengan pangsa 28,35%, sementara platform lainnya menyumbang kurang dari 1%.

Meski demikian, pasar hair dryer mengalami perlambatan selama periode pengamatan. Nilai transaksi turun dari Rp44,4 miliar pada April menjadi Rp41,4 miliar pada Mei (-6,83%), lalu kembali turun menjadi Rp37,3 miliar pada Juni (-9,78%).

Setiap Segmen Hairdryer Punya Raja

Data ini menunjukkan bahwa pasar hair dryer Indonesia tidak dikuasai oleh satu merek saja. Samono memimpin di segmen ekonomis, Philips mendominasi kelas menengah, Laifen unggul di kelas menengah atas, sementara Dyson tetap menjadi raja di kategori premium.

Setiap segmen harga memiliki karakteristik konsumen yang berbeda. Dengan memahami pola belanja ini, brand dapat menyusun strategi produk, harga, hingga pemasaran yang lebih tepat sasaran.

Ingin mengetahui performa kategori hair tools atau kategori marketplace lainnya? Klik di sini dan temukan bagaimana tim Markethac dapat membantu brand Anda mendapatkan insight berbasis data untuk mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat.