Carnivore Diet Lagi Hype, Butter Premium Jadi Incaran Pasar

Food and Beverage
•
•
Friday, Feb 6, 2026
Carnivore Diet Lagi Hype, Butter Premium Jadi Incaran Pasar
Source: https://markethac.id

Tren carnivore diet yang makin ramai di bahas di media sosial ikut mengerek perhatian konsumen pada produk berbasis lemak hewani, salah satunya butter premium. Pola makan tinggi protein dan lemak ini membuat butter tak lagi sekadar pelengkap dapur, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup dan “daily fat intake” bagi sebagian konsumen. Dampaknya terlihat jelas di pasar: kategori butter premium menunjukkan performa yang menonjol sepanjang 2025, dengan pergeseran preferensi dari produk mass ke brand berharga lebih tinggi. Fenomena ini menandai perubahan penting di industri food & drink, ketika tren diet mampu mendorong lonjakan permintaan dan membentuk ulang peta persaingan di pasar butter.



Premiumisasi Konsumsi Dorong Butter Jadi Produk Bernilai Tinggi

Kenaikan nilai pasar butter lebih banyak didorong oleh tren premiumisasi konsumsi dibanding satu pola diet tertentu. Konsumen kini semakin sadar kualitas bahan, rasa, dan brand trust, sehingga bersedia membayar lebih untuk produk butter dengan positioning premium. Dari total market size butter Rp6,7 miliar, segmen premium butter menyumbang Rp5,5 miliar atau 83,01% dari total market. Angka ini menegaskan bahwa pertumbuhan kategori butter tidak hanya bersifat tren sesaat, melainkan hasil perubahan preferensi jangka menengah yang mengarah pada produk bernilai tinggi.

Anchor Unggul di Nilai, Bukan di Volume Penjualan

Dalam struktur market butter premium, Anchor menempati posisi teratas dengan market share 39,31%. Meski demikian, keunggulan ini tidak datang dari volume penjualan tertinggi. Anchor hanya mencatat sekitar 8.000 item terjual, jauh lebih rendah dibanding Beorganik yang membukukan 26.100 item dengan market share 24,92%. Perbedaan ini menunjukkan dua strategi yang berjalan paralel di market: Anchor bermain di nilai dan margin tinggi, sementara kompetitor lain mengandalkan volume dan penetrasi.



Lifestyle Food Jadi Katalis, Bukan Penentu Utama Market

Tren gaya hidup makan, termasuk popularitas diet tinggi lemak seperti carnivore, berperan sebagai katalis dalam memperluas awareness butter premium, namun bukan faktor penentu pertumbuhan market. Konsumen yang mengikuti tren ini cenderung lebih vokal di media sosial dan membantu membentuk persepsi butter sebagai produk fungsional, bukan sekadar bahan masak. Namun secara struktur, fragmentasi market tetap menjadi karakter utama, dengan pemain di luar dua besar masih menguasai lebih dari 35% market share secara kolektif, menandakan persaingan yang luas dan terbuka.



Fragmentasi Market Buka Peluang Brand Baru dan Strategi Niche

Meski Anchor memimpin market butter premium, struktur pasar menunjukkan fragmentasi yang masih besar. Selain dua pemain teratas, sejumlah brand seperti Gold Bullion, Grouu, Wijsman, hingga Garlickys masing-masing menguasai kisaran 3–5% market share, Ini menandakan bahwa market butter premium belum terkonsolidasi penuh. Bagi brand yang mampu bermain di niche tertentu, baik dari sisi fungsi, rasa, maupun storytelling, peluang untuk mencuri perhatian konsumen masih terbuka lebar.

 Persaingan di kategori ini bukan lagi soal siapa yang paling besar, melainkan siapa yang paling relevan dengan kebutuhan spesifik konsumen.

Persaingan butter premium yang semakin kompleks menunjukkan betapa pentingnya memahami data market sebelum mengambil langkah strategis. 

Jika kamu ingin menggali potensi kategori food & lifestyle secara lebih mendalam, mulai dari market size, positioning brand, hingga peluang niche, klik di sini untuk terhubung dengan tim Markethac dan dapatkan insight market berbasis data yang relevan untuk bisnismu.