Industri pasar parfum Indonesia sedang berada di fase yang unik. Nilai transaksinya sudah menembus level triliunan rupiah, namun peta persaingannya belum menunjukkan satu brand yang benar-benar memimpin. Di tengah pertumbuhan kategori parfum secara keseluruhan, segmen Eau De Parfum (EDP) justru tampil sebagai kontributor terbesar, sekaligus membuka gambaran bahwa pasar ini masih sangat terbuka dan kompetitif.
EDP Menyumbang Sepertiga Nilai Pasar Parfum
Dari total GMV parfum sebesar Rp. 2 triliun, segmen EDP mencatat nilai Rp701,0 miliar, atau sekitar 33,47% dari keseluruhan pasar. Angka ini menempatkan EDP sebagai varian dengan kontribusi terbesar dibanding jenis parfum lainnya. Dalam konteks pasar parfum Indonesia, dominasi EDP secara nilai menunjukkan bahwa konsumen bersedia bertransaksi lebih besar untuk kategori ini, menjadikannya medan persaingan utama antar brand.
Market Leader Hanya Pegang 6% Pasar
Menariknya, besarnya pasar EDP tidak diikuti oleh dominasi satu brand. Scarlett Brightening sebagai pemimpin sementara hanya menguasai 6,15% market share. Posisi ini diikuti Onix Fragrance (5,49%) dan Mykonos (5,16%). Jarak antar brand di papan atas relatif tipis, mempertegas bahwa tidak ada pemain yang benar-benar mengunci posisi puncak di segmen EDP.
Peringkat 2–10 Saling Berdekatan
Brand peringkat 2 hingga 10 memperlihatkan distribusi market share yang sangat rapat. Evangeline mencatat 4,68%, Morris Parfume 3,35%, Hmns 3,13%, Bonavie 2,70%, Fordive 2,53%, Braven 2,49%, hingga Miniso 2,36%. Dari sisi item sold, beberapa brand mencatat volume tinggi dengan GMV yang relatif seimbang. Pola ini menunjukkan bahwa persaingan di pasar parfum Indonesia lebih bersifat menyebar, bukan terkonsentrasi pada satu kekuatan utama.
Pasar Besar, Tapi Belum Terkunci
Ketika segmen EDP bernilai ratusan miliar rupiah namun market share tertinggi hanya berada di kisaran 6%, satu kesimpulan menjadi jelas: pasar ini belum terkunci. Tidak seperti kategori lain yang didominasi satu pemain besar, struktur parfum EDP menunjukkan ruang kompetisi yang masih luas. Data GMV dan item sold mengindikasikan bahwa peluang pertumbuhan masih terbuka bagi banyak brand, tanpa satu pun yang benar-benar memonopoli pasar parfum Indonesia.
Besarnya nilai pasar tidak selalu berarti pemenangnya sudah ditentukan. Justru di pasar yang terfragmentasi, strategi berbasis data menjadi pembeda utama.
Jika brand-mu ingin membaca peluang di balik GMV, market share, dan item sold parfum EDP, klik di sini untuk terhubung dengan tim Markethac dan isi form konsultasi kami.
