Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang hampir selalu ada di dapur masyarakat Indonesia. Karena sifatnya yang esensial, kategori ini sering dianggap memiliki permintaan yang relatif stabil. Namun, ketika harga terus mengalami kenaikan, perilaku konsumen tetap berpotensi berubah.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak goreng menunjukkan tren peningkatan. Minyak goreng kemasan premium tercatat mengalami kenaikan sekitar 4%, sementara minyak goreng curah naik lebih tinggi hingga 9,12%. Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih menghadapi berbagai tekanan ekonomi.
Meski konsumen tidak bisa sepenuhnya berhenti membeli minyak goreng, data menunjukkan adanya indikasi bahwa mereka mulai lebih berhati-hati dalam berbelanja. Salah satu sinyalnya terlihat dari performa kategori minyak goreng di e-commerce yang menunjukkan perlambatan dalam beberapa bulan terakhir.
Penjualan E-Commerce Mengalami Tren Pelemahan
Data penjualan e-commerce memperlihatkan bahwa kategori minyak goreng mengalami penurunan berturut-turut selama tiga bulan terakhir.
Dari Februari ke Maret, penjualan turun 6,28%. Penurunan tersebut berlanjut pada April dengan koreksi sebesar 12,08% dibanding bulan sebelumnya. Secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kategori sedang mengalami tekanan.
Meski tidak dapat disimpulkan bahwa seluruh penurunan tersebut disebabkan oleh kenaikan harga, tren ini menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat, sebagian konsumen cenderung menjadi lebih selektif dalam menentukan waktu pembelian, jumlah pembelian, maupun merek yang dipilih.
Bagi pelaku bisnis FMCG, kondisi ini menjadi sinyal penting bahwa sensitivitas harga mulai memainkan peran yang lebih besar dalam keputusan belanja konsumen.
Penjualan Harian Masih Bergerak Fluktuatif
Menariknya, meskipun tren bulanan menunjukkan pelemahan, data harian sepanjang Mei memperlihatkan gambaran yang lebih dinamis.
Penjualan minyak goreng di e-commerce masih bergerak naik turun dengan cukup tajam. Pada beberapa hari tertentu, kategori ini mencatat lonjakan pertumbuhan hingga 47,5%. Namun di sisi lain, terdapat juga periode ketika penjualan turun hingga 27,7% hanya dalam satu hari.
Fluktuasi tersebut menunjukkan bahwa permintaan minyak goreng belum benar-benar melemah secara drastis. Konsumen masih tetap melakukan pembelian, tetapi aktivitas belanja terlihat lebih tidak konsisten dibanding sebelumnya.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar sedang berada dalam fase penyesuaian. Konsumen tetap membutuhkan minyak goreng sebagai kebutuhan sehari-hari, tetapi mereka mulai lebih mempertimbangkan harga, promo, dan momentum pembelian.
Sunco Masih Memimpin Persaingan Brand
Di tengah kondisi pasar yang melambat, persaingan antar merek masih berlangsung cukup menarik. Sunco berhasil mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar minyak goreng di e-commerce dengan market share mencapai 38,84%. Angka tersebut menunjukkan dominasi yang cukup kuat dibanding para pesaing di bawahnya.
Sementara itu, merek-merek seperti Sania, Barco, Rose Brand, dan Fortune masih bersaing ketat untuk memperebutkan posisi berikutnya. Jarak market share yang relatif berdekatan membuat persaingan di kelompok penantang masih sangat terbuka.
Ke depan, kemampuan menjaga harga yang kompetitif, distribusi yang kuat, serta strategi promosi yang tepat akan menjadi faktor penting untuk memenangkan pasar yang semakin sensitif terhadap harga. Bagi brand, memahami perubahan perilaku konsumen menjadi kunci untuk tetap relevan di tengah dinamika pasar minyak goreng yang terus berubah.
Ingin mengetahui kategori FMCG lain yang sedang tumbuh atau melambat? Hubungi Markethac untuk mendapatkan data market dan insight terbaru dari berbagai kategori e-commerce di Indonesia.
