Internet Ramai Tren DIY Milk Tea, Bagaimana Efeknya ke Penjualan Krimer?

Food and Beverage
•
•
Wednesday, Oct 7, 2026
Internet Ramai Tren DIY Milk Tea, 
Bagaimana Efeknya ke Penjualan Krimer?
Source: https://markethac.id

Tren DIY milk tea ala café makin ramai di internet. Berbagai resep bermunculan, mulai dari racikan sederhana dengan bahan yang mudah ditemukan sampai kreasi milk tea yang dibuat menyerupai minuman di café. Krimer pun sering digunakan untuk menghasilkan tekstur dan rasa yang lebih creamy.

Tapi, apakah ramainya tren DIY milk tea otomatis membuat penjualan krimer ikut naik?

Data Markethac periode Januari–Juni 2026 menunjukkan pola yang cukup menarik. Penjualan krimer memang sempat menguat di awal tahun. Pada Februari, GMV tumbuh 10,05% dan Unit Sold naik 13,53% dibandingkan Januari. Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama. Pada Maret, GMV kembali turun 8,02%, meski Unit Sold masih tumbuh tipis 1,43%. Penurunan semakin terasa pada April, ketika GMV turun 21,51% dan Unit Sold anjlok 38,41%.

Setelah itu, belum terlihat pemulihan yang konsisten. GMV hanya tumbuh 0,27% pada Mei, sementara Unit Sold masih turun 3,25%. Pada Juni, penjualan kembali melemah dengan GMV turun 4,75% dan Unit Sold turun 6,81%. Artinya, meski resep DIY milk tea sedang ramai di internet, hype tersebut belum tentu langsung mengonversi menjadi pembelian krimer di marketplace.

Krimer Bukan Produk Sekali Pakai

Salah satu petunjuk menarik datang dari ukuran kemasan yang paling banyak dibeli. Kemasan 1–5kg menjadi pilihan utama di kategori krimer, dengan kontribusi 64,69% share GMV dan 73,53% share Unit Sold. Di sisi lain, kemasan di atas 5kg menyumbang 15,02% GMV, meski hanya memiliki 0,76% share Unit Sold. Artinya, ukuran yang sangat besar tetap memiliki kontribusi nilai penjualan yang cukup berarti walaupun jumlah transaksinya jauh lebih sedikit.

Pola ini bisa mengindikasikan bahwa krimer lebih sering dibeli untuk kebutuhan stok dan pemakaian berulang, bukan hanya untuk satu kali membuat milk tea. Hal ini penting ketika melihat hubungan antara tren DIY milk tea dan penjualan krimer. Satu resep yang viral bisa membuat orang tertarik mencoba membuat milk tea di rumah, tetapi belum tentu langsung menghasilkan pembelian krimer baru. 

Jika konsumen sudah memiliki stok dalam kemasan besar, mereka bisa saja menggunakan persediaan yang ada terlebih dahulu. Dengan kata lain, ramainya tren belum tentu sama dengan meningkatnya demand baru di marketplace.

Shopee Masih Jadi Markas Utama Penjualan

Dari sisi channel, penjualan krimer sangat terkonsentrasi di Shopee. Selama Januari–Juni 2026, Shopee menguasai 85,33% share GMV dan 82,06% share Unit Sold kategori. TikTok x Tokopedia berada di posisi berikutnya dengan 14,60% share GMV dan 17,82% share Unit Sold. Menariknya, porsi Unit Sold di channel ini lebih tinggi dibandingkan share GMV-nya.

Pola tersebut menunjukkan bahwa meski kontribusi nilai penjualannya lebih kecil, TikTok x Tokopedia tetap mencatat porsi jumlah unit yang cukup signifikan. Ini menjadi sinyal bahwa perilaku belanja krimer bisa berbeda antar-channel. Sementara itu, Blibli hanya menyumbang 0,07% share GMV dan 0,12% share Unit Sold dalam data yang diamati.

Big Player Ada, Pemain Kecil Tetap Ramai

Persaingan brand di kategori krimer juga menunjukkan pola yang menarik. MaxiPowder mencatat Unit Sold terbesar di antara top brand, dengan 358,7 ribu unit. Sementara itu, Javaland menjadi brand dengan GMV tertinggi di jajaran tersebut.

Di belakang kedua nama tersebut, ada Santos, Maxcreamer, dan Ellenka yang juga masuk jajaran top brand. Namun, pasar krimer tidak hanya dimainkan oleh brand besar. Beberapa brand lain masih bermain dengan skala penjualan yang lebih kecil, membuat persaingan kategori tetap tersebar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang di kategori krimer tidak hanya soal menjadi pemain terbesar. Memahami ukuran kemasan yang diminati, channel tempat konsumen bertransaksi, serta pola penjualan masing-masing brand juga penting untuk membaca ruang kompetisi.

Tren Viral Belum Tentu Langsung Cuan

Dari data Januari–Juni 2026, ada satu hal yang cukup jelas: tren DIY milk tea dan penjualan krimer tidak selalu bergerak beriringan. Konten yang ramai di internet memang bisa menciptakan awareness dan mendorong orang mencoba membuat milk tea sendiri. Namun, keputusan untuk membeli krimer dipengaruhi oleh faktor lain, termasuk stok yang masih tersedia, ukuran kemasan, channel pembelian, dan pola konsumsi berulang.

Karena itu, brand sebaiknya tidak hanya melihat tren yang sedang viral sebagai sinyal bahwa penjualan kategori otomatis akan ikut naik. Justru, membandingkan hype dengan data transaksi bisa membantu melihat apakah sebuah tren benar-benar menciptakan demand baru atau hanya ramai di sisi awareness. Mau tahu tren tertentu beneran berdampak ke penjualan kategori? Klik di sini untuk konsultasi dengan Markethac