Pasar parfum Eau de Toilette (EDT) Indonesia sedang diperebutkan Kahf dan Miniso. Sepanjang Januari–Juli 2026, keduanya bersaing ketat di posisi teratas dengan market share terpaut tipis. Menariknya, belum ada satu pun brand yang bisa menguasai lebih dari 10% pasar. Artinya, persaingan EDT masih terbuka dan brand lain punya peluang untuk merebut share.
Peluang tersebut bisa datang dari beberapa strategi. Mulai dari memanfaatkan momentum Double Date, bermain di price point yang tepat, hingga memilih channel e-commerce yang paling potensial. Simak data dan strateginya.
Kahf dan Miniso Bersaing Ketat di Puncak Pasar EDT
Sepanjang Januari–Juli 2026, Kahf dan Miniso memimpin kategori parfum EDT. Keduanya sama-sama tunjukkan performa kuat di Shopee. Namun, posisi market leader di kategori ini belum terlalu dominan. Belum ada brand yang berhasil menembus 10% market share, sehingga pasar EDT masih relatif terfragmentasi.
Bagi challenger, kondisi ini memberikan sinyal menarik. Pasar belum terkunci oleh satu pemain besar sehingga masih ada ruang untuk mengambil share melalui strategi harga, promosi, dan channel yang tepat. Bagaimana cara memanfaatkannya?
1. Maksimalkan Penjualan EDT saat Double Date
Data menunjukkan bahwa parfum EDT paling cuan saat Double Date. Rata-rata GMV hariannya mencapai Rp746,7 juta, lebih tinggi dibanding hari biasa atau BAU sebesar Rp559,3 juta dan Payday sebesar Rp495,3 juta.
Menariknya, rata-rata diskon saat Double Date hanya 26%, lebih rendah dibanding BAU sebesar 27% dan Payday sebesar 29%. Artinya, double date berperan besar dalam mendorong penjualan parfum EDT. Brand tak harus selalu mengandalkan deep discount untuk meningkatkan transaksi.
Sebaliknya, budget dapat dialihkan ke aktivitas yang memperbesar visibility saat Double Date, seperti live shopping, affiliate, atau limited-time offer.
2. Main di Dua Range Harga
Dari sisi harga, pasar EDT menunjukkan pola yang cukup unik karena demand terkonsentrasi di dua price point.
Produk di bawah Rp100 ribu memiliki demand yang tinggi dan dapat menjadi entry product untuk menarik konsumen sekaligus mengejar volume penjualan. Di sisi lain, produk Rp300 ribu ke atas menyumbang GMV terbesar dengan 37,1% share. Segmen ini dapat dimanfaatkan brand untuk mengejar nilai transaksi dan margin yang lebih tinggi. Sementara itu, rentang Rp100 ribu–Rp249 ribu berikan kontribusi GMV ter-rendah.
Bagi brand, strategi dua lini harga bisa menjadi opsi menarik: produk affordable untuk mengejar volume dan awareness, kemudian produk premium untuk mengejar GMV dan margin.
3. Jadikan Shopee sebagai Channel Utama
Shopee menguasai 57,2% pasar EDT, unggul dari TikTok x Tokopedia dengan share 42,7%. Perbedaannya memang tidak terlalu jauh, tapi data tersebut membuat Shopee layak mendapat porsi lebih besar dalam strategi distribusi dan ads.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: diskon lebih besar belum tentu menghasilkan penjualan yang optimal.
Brand sebaiknya mengukur incremental sales yang diperoleh dari setiap promo. Jika tambahan diskon tidak memberikan kenaikan penjualan yang sepadan, maka budget dapat dialihkan ke strategi lain yang lebih efektif untuk meningkatkan traffic dan conversion.
Pasar EDT Belum Terkunci, Brand Lain Punya Celah
Dominasi Kahf dan Miniso tidak membuat pasar EDT tertutup bagi pemain lain. Justru karena market leader belum mencapai 10% share, brand punya kesempatan untuk merebut posisi melalui strategi yang lebih tajam.
Data Januari–Juli 2026 menunjukkan setidaknya tiga peluang: maksimalkan momentum Double Date tanpa over-discount, bermain di dua price point potensial yaitu <Rp100 ribu dan ≥Rp300 ribu, dan prioritaskan Shopee sebagai channel penjualan.
Mau tahu best practice penjualan kategori parfum lainnya? Klik di sini untuk dapatkan datanya.



