Budaya minum teh sudah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Namun, sejak awal 2020, boba milk tea berkembang menjadi bagian dari pop culture dan lifestyle, membuat teh hadir dalam format yang lebih modern dan kekinian.
Tren tersebut masih bertahan hingga kini. Berdasarkan data marketplace periode Mei–Juli 2026, pasar teh mencatat 5,6 juta unit terjual. Lantas, seperti apa perkembangan pasar teh dan produk apa yang paling diminati konsumen?
Pasar Teh Mulai Mengalami Perlambatan
Meski pasar teh masih memiliki penjualan yang cukup besar, pertumbuhannya justru mulai menunjukkan tekanan dalam beberapa bulan terakhir. Pada Juni 2026, GMV pasar teh turun 1,92% dan Unit Sold turun 8,02%. Hal ini menunjukkan bahwa popularitas teh masih kuat, tetapi demand mulai mengalami perlambatan.
Tea Bag Masih Jadi Format Favorit
Jika dilihat berdasarkan format, Tea Bag (Celup) masih menjadi pilihan utama konsumen. Format ini mendominasi 56,29% GMV dan 66,90% Unit Sold, jauh di atas format lainnya. Sementara itu, Powder/Instant Tea menempati posisi kedua dari sisi GMV dengan share 18,73%. Namun, dari sisi volume, Loose Leaf lebih populer dengan share Unit Sold 14,13%, dibandingkan Powder/Instant sebesar 13,31%.
Format RTD (Ready-to-Drink) memiliki share GMV sebesar 12,15%, tetapi hanya menyumbang 5,66% Unit Sold. Artinya, meski volumenya lebih kecil, RTD memiliki nilai transaksi per unit yang lebih tinggi dibandingkan format teh lainnya. Hal ini membuat RTD menarik untuk diperhatikan di tengah meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap produk yang praktis dan siap dikonsumsi.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa konsumen memiliki preferensi yang cukup beragam dalam memilih format teh, mulai dari kepraktisan RTD hingga pengalaman menyeduh Loose Leaf.
Detoplus Memimpin Pasar Teh Indonesia
Dari sisi brand, Teh Rimpang Detoplus menjadi pemimpin pasar dengan share 43,32% GMV dan 45,50% Unit Sold. Dominasi ini masih sangat bergantung pada format Tea Bag, yang menjadi satu-satunya format produk Detoplus.
Di sisi lain, ChaTraMue menunjukkan performa yang cukup unik. Brand teh asal Thailand ini memiliki share GMV 12,25%, tetapi hanya mencatat share Unit Sold 1,38%. Meski volumenya relatif kecil, ChaTraMue tetap mampu menduduki posisi #3 di pasar teh Indonesia, menunjukkan kuatnya kontribusi produk dengan nilai transaksi yang lebih tinggi.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Pasar Teh?
Pasar teh Indonesia masih memiliki basis konsumen yang besar, tetapi pertumbuhan mulai menunjukkan perlambatan. Di tengah kondisi tersebut, Tea Bag tetap menjadi format paling dominan, sementara format seperti Loose Leaf, Powder/Instant, dan RTD menawarkan karakteristik pasar yang berbeda.
Bagi brand, memahami format, preferensi konsumen, dan positioning kompetitor menjadi semakin penting untuk menemukan peluang pertumbuhan di pasar teh yang semakin beragam. Ingin melihat insight pasar teh dan kategori FMCG lainnya? Eksplorasi data marketplace lebih lengkap di MarketHac.




