Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap perlindungan kulit meningkat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Sunscreen tidak lagi dipandang sebagai produk tambahan skincare, melainkan kebutuhan wajib harian. Perubahan perilaku ini langsung tercermin pada Pasar Sunscreen SPF 35 keatas yang sepanjang 2025 mencatat nilai transaksi sekitar Rp1,03 triliun atau hampir 59% dari total penjualan sunscreen nasional.
Pertumbuhan ini menarik karena sebelumnya sunscreen lebih identik dengan segmen niche, kini basis konsumennya jauh lebih luas: pekerja kantoran, pelajar, hingga pengguna kasual yang baru mulai merawat kulit. Artinya, kategori ini bukan hanya berkembang, tetapi sedang memasuki fase mass adoption.
Pendatang Baru Mengalahkan Brand Senior
Dominasi pasar justru tidak dipegang merek lama. Facetology brand kecantikan yang baru dirilis pada tahun 2022 memimpin dengan market share 14,43%. Wardah menyusul di posisi kedua dengan 8,58%, lalu Azarine 7,2%. Yang menarik, kemenangan Facetology bukan karena volume semata, melainkan positioning produk. Rata-rata harga jualnya sekitar Rp80 ribu, lebih tinggi dibanding Wardah di kisaran Rp40ribu. Ini menunjukkan konsumen mulai bersedia membayar lebih mahal selama klaim dan manfaat produk terasa jelas.
Fenomena ini mengindikasikan perubahan pada market sunscreen Indonesia: loyalitas merek semakin lemah, sementara kepercayaan terhadap performa produk semakin kuat.
Bukan Harga Murah, Tapi Value yang Menjual
Walau average selling price Wardah 50% lebih rendah dibanding Facetology, selisih volumenya ternyata tipis, Facetology di sekitar 1,7 juta unit, sementara Wardah 2 juta unit. Artinya, harga yang jauh lebih terjangkau tidak otomatis menciptakan gap penjualan yang besar.
Di sinilah terlihat bahwa konsumen tidak semata mengejar murah, tapi mempertimbangkan perceived value: klaim spesifik, kualitas formula, hingga pengalaman pemakaian.
Pasar Bertumbuh, Strategi Harus Berubah
Pertumbuhan Pasar Sunscreen SPF 35 ke atas tidak hanya soal peluang produk baru, tetapi juga tantangan strategi. Banyak brand gagal bukan karena kualitas buruk, melainkan positioning yang tidak jelas di tengah kompetisi yang semakin padat. Di kategori yang semakin crowded, diferensiasi, edukasi, dan komunikasi manfaat menjadi faktor utama penentu penjualan, bahkan lebih penting dibanding diskon.
Peluangnya Besar, Tapi Tidak Bisa Tebak-Tebakan
Data menunjukkan kategori sunscreen masih akan terus berkembang, namun arah pertumbuhannya sangat bergantung pada strategi brand, channel, dan positioning produk.
Jika Anda ingin mengetahui peluang kategori untuk brand Anda dan strategi apa yang paling efektif di marketplace maupun distribusi digital, Anda bisa mempelajari analisis lengkapnya.
Klik di sini untuk berkonsultasi langsung dengan tim Markethac dan temukan strategi pertumbuhan yang relevan untuk bisnis Anda.
