Biasanya, begitu musim hujan mulai rutin turun, kebutuhan alat pengendali lembap otomatis ikut naik. Logikanya sih begitu. Tapi data terbaru justru menunjukkan cerita yang berbeda. Di tengah curah hujan yang makin sering, penjualan dehumidifier ternyata nggak bergerak seagresif yang dibayangkan. Ada dinamika baru di pasar yang bikin banyak brand bertanya-tanya: apa sih sebenarnya yang bikin konsumen jadi lebih berhitung sebelum beli?
Penurunan Terjadi Justru Saat Kelembapan Lagi Tinggi-Tingginya
Kalau lihat datanya, tren penurunan penjualan dehumidifier memang cukup signifikan. Di bulan Juli, angka penjualan masih ada di Rp9,2 miliar, lalu turun ke Rp6,7 miliar di Agustus, sebelum makin merosot ke Rp3,8 miliar di September. Penurunan yang lumayan curam ini mulai nunjukkin kalau konsumen lagi lebih selektif dalam belanja, termasuk untuk kategori yang biasanya naik daun saat udara lembap. Banyaknya kebutuhan dan kurangnya edukasi terkait fungsi dehumidifier jadi salah satu penyebab yang bikin konsumen akhirnya menunda beli karena merasa dehumidifier belum jadi prioritas, dan di sinilah brand mulai kerasa banget tekanan permintaan yang makin melemah.
Kapasitas Tangki Dehumidifier Pilihan Konsumen
Melihat pola belanjanya, segmen mid-range ternyata jadi favorit konsumen, terutama karena dianggap punya keseimbangan terbaik antara harga dan kualitas. Di kategori ini, produk dengan kapasitas tangki 1–2,9 liter muncul sebagai yang paling laris dan paling sering dipilih. Konsumen merasa dehumidifier murah dengan kapasitas ini cukup untuk kebutuhan harian tanpa harus naik ke harga premium yang beda tipis fiturnya. Buat brand, kondisi ini sebenarnya membuka peluang besar: fokus menguatkan value, kualitas material, dan efektivitas pengurangan lembap bisa jadi strategi yang lebih relevan daripada hanya sekedar perang harga. Brand yang bisa memoles keunggulan di titik ini berpotensi jadi pilihan utama di tengah pasar yang makin selektif.
Gap Makin Menyempit, Leka Masih Memimpin di Depan Simplus
Di puncak persaingan dehumidifier, Leka memimpin pasar dengan kontribusi GMV sebesar 24,6%, unggul tipis banget dari Simplus yang mencatat 23,2%. Gap 1.4 poin ini nunjukin kalau posisi pertama dan kedua sebenarnya hampir setara, dan setiap bulan bisa saling geser tergantung produk baru, promo, atau tren kebutuhan konsumen. Keduanya sama-sama kuat di segmen mid-range yang memang lagi ramai, terutama karena konsumen makin cari produk dengan value tinggi tanpa harus masuk ke harga premium.
Di bawah dua brand itu, ada Notale tetap jadi pemain kokoh yang mengisi kebutuhan konsumen yang cari produk fungsional dengan harga terjangkau. Mi dan Ravelle juga memperkuat persaingan, terutama berkat desain yang compact dan fokus pada kebutuhan harian. Walau kontribusi mereka belum sedekat dua brand teratas, kehadiran mereka bikin pilihan di kelas value dan mid-range makin lebar, dan ini ikut memecah preferensi konsumen.
Kenapa Brand Perlu Bergerak Lebih Strategis?
Dengan pilihan produk yang makin luas dan rentang harga yang bervariasi, konsumen sekarang jauh lebih selektif sebelum membeli. Mereka menilai fitur, kapasitas, efisiensi, hingga reputasi brand, sehingga penjualan dehumidifier sangat bergantung pada seberapa kuat brand mampu menawarkan value yang benar-benar relevan sehingga bisa memegang gelar “dehumidifier worth-it”. Apalagi, dehumidifier sendiri belum dianggap sebagai perangkat yang urgent di Indonesia. Awareness-nya tumbuh, tapi belum sampai level “wajib punya”, sehingga brand harus lebih pintar membangun edukasi, narasi manfaat, dan strategi upsell yang menonjolkan dampak nyata seperti kesehatan kulit, kualitas udara, dan kenyamanan ruangan.
Masih bingung cara nge-push awareness dan konversi dehumidifier di market Indonesia? Insight yang tepat bisa jadi game changer. Yuk, gali potensinya bareng tim Markethac. Klik di sini!
