Setiap Idul Adha, jutaan rumah tangga di Indonesia menerima daging kurban dan mulai mencari berbagai cara untuk mengolahnya. Dari sekian banyak pilihan menu, rendang masih menjadi salah satu favorit karena cita rasanya yang kaya dan cocok untuk mengolah daging dalam jumlah besar.
Karena santan merupakan salah satu bahan utama rendang, banyak orang menganggap Idul Adha sebagai momentum besar bagi kategori santan instan. Namun ketika melihat data marketplace, kenyataannya ternyata tidak sesederhana itu.
Dalam tiga bulan terakhir, pasar santan instan di e-commerce mencapai Rp10,2 miliar. Meskipun kebutuhan santan meningkat, performa kategori santan instan ternyata tidak menunjukkan lonjakan setinggi yang dibayangkan banyak pelaku bisnis.
Penjualan Turun Setelah Momentum Lebaran
Data menunjukkan bahwa penjualan santan instan mencapai sekitar Rp4,3 miliar pada Maret 2026. Namun pada April, nilainya turun hingga 30,28% menjadi sekitar Rp3 miliar dan relatif stagnan pada Mei. Penurunan ini menunjukkan bahwa kategori santan instan lebih banyak terdorong oleh momentum Lebaran dibanding Idul Adha.
Padahal secara teori, kebutuhan santan untuk mengolah daging kurban seharusnya tetap tinggi. Secara logika, semakin banyak masyarakat memasak rendang maka semakin besar pula kebutuhan santan. Namun data menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi santan tidak selalu diikuti oleh pertumbuhan penjualan santan instan yang signifikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara kebutuhan bahan baku dan produk yang dipilih konsumen untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan kata lain, tingginya aktivitas memasak saat Idul Adha tidak otomatis meningkatkan penjualan santan instan.
Kemasan Mini Jadi Tulang Punggung Pasar
Petunjuk menarik justru terlihat dari ukuran produk yang paling banyak dibeli konsumen. Sebanyak 43,37% GMV kategori ini berasal dari kemasan di bawah 100 ml/gr, setara sekitar Rp4,4 miliar. Sebaliknya, kemasan besar di atas 500 ml hanya menyumbang sebagian kecil transaksi.
Data ini menunjukkan bahwa santan instan lebih sering digunakan untuk kebutuhan memasak praktis sehari-hari dibanding untuk memasak dalam volume besar. Dengan kata lain, konsumen lebih banyak membeli santan instan untuk masakan rumahan sederhana dibanding kebutuhan memasak rendang dalam jumlah besar saat Idul Adha.
Sambu Group Kuasai Hampir Separuh Pasar
Persaingan santan instan di e-commerce Shopee sekilas terlihat dipimpin oleh Sun Kara dengan pangsa 32,94%. Namun jika melihat lebih dalam, posisi grup pemilik brand ternyata jauh lebih dominan.
Selain Sun Kara, Sambu Group juga memiliki KARA yang menempati posisi keempat dengan pangsa 12,64%. Jika digabung, kedua brand tersebut menguasai sekitar 45,58% total penjualan santan instan di Shopee.
Dominasi ini menunjukkan bahwa kekuatan distribusi, awareness, dan pengalaman panjang di industri kelapa masih menjadi keunggulan utama dalam kategori santan instan.
Tidak Semua Kategori Menang di Momen yang Sama
Kasus santan instan menjadi contoh menarik bahwa relevansi produk terhadap sebuah momen tidak selalu berujung pada lonjakan penjualan.
Meski Idul Adha identik dengan rendang dan kebutuhan santan, data menunjukkan bahwa kategori santan instan belum menikmati pertumbuhan yang signifikan. Dominasi kemasan kecil mengindikasikan bahwa produk ini lebih dekat dengan kebutuhan convenience cooking dibanding memasak rendang dalam skala besar.
Bagi pelaku bisnis, insight ini menjadi pengingat bahwa memahami perilaku konsumen sering kali lebih penting daripada sekadar mengikuti momentum musiman. Dengan analisis data marketplace, Anda bisa mengetahui kapan permintaan benar-benar meningkat dan strategi apa yang paling efektif untuk memanfaatkannya.
Klik di sini untuk terhubung dengan tim Markethac dan mendapatkan insight pasar yang lebih dalam.




