Pasar vitamin C menunjukkan sinyal pertumbuhan positif pada Mei 2026. Setelah mengalami penurunan pada April, kategori ini kembali mencatatkan kenaikan penjualan bulan Mei. Berdasarkan data tim Markethac, total market size kategori vitamin C mencapai Rp33,6 miliar. Penjualan pada Maret berada di angka Rp11,6 miliar, kemudian turun 6,32% menjadi Rp10,9 miliar pada April, sebelum kembali tumbuh 1,53% pada Mei.
Meski pertumbuhannya belum terlalu besar, peningkatan ini menjadi menarik karena terjadi saat Indonesia memasuki musim pancaroba. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan: apakah konsumen membeli vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuh menghadapi perubahan cuaca, atau justru karena manfaat lain yang semakin relevan dengan gaya hidup saat ini?
Shopee dan TikTok Shop Kuasai Penjualan Vitamin C
Dari sisi kanal penjualan, market vitamin C saat ini hampir sepenuhnya dikuasai oleh marketplace berbasis social commerce dan e-commerce besar. Shopee menjadi channel terbesar dengan kontribusi 53,47% terhadap total penjualan. Di posisi kedua terdapat TikTok Shop by Tokopedia dengan pangsa pasar 46,33%.
Sementara itu, Blibli hanya menyumbang sekitar 0,20% dari total transaksi kategori vitamin C. Distribusi ini menunjukkan bahwa konsumen vitamin C sangat aktif berbelanja melalui platform yang menggabungkan kemudahan transaksi dengan aktivitas promosi, live shopping, maupun konten edukasi produk.
Konsumen Vitamin C Rela Bayar Lebih Mahal
Salah satu temuan paling menarik dari kategori ini terlihat pada distribusi segmen harga. Sebanyak 43,09% penjualan berasal dari produk dengan harga Rp50.000–Rp100.000. Sementara itu, produk dengan harga di atas Rp100.000 menyumbang 42,94% dari total market.
Sebaliknya, produk dengan harga di bawah Rp50.000 hanya berkontribusi sekitar 13,97%. Data ini menunjukkan bahwa konsumen tidak lagi selalu mencari vitamin C termurah. Faktor seperti kualitas produk, reputasi brand, manfaat tambahan, dan kepercayaan terhadap formula menjadi pertimbangan yang lebih penting dalam keputusan pembelian.
Bagi brand, kondisi ini membuka peluang untuk membangun positioning premium tanpa harus terjebak dalam perang harga.
Glusela Jadi Brand Vitamin C dengan Penjualan Terbesar
Persaingan brand di kategori vitamin C juga memperlihatkan pergeseran menarik. Glusela berhasil menempati posisi pertama dengan market share sebesar 14,55%, mengungguli berbagai brand yang sudah lebih lama dikenal di pasar.
Di bawah Glusela terdapat Blackmores dengan kontribusi 10,70%, diikuti Enervon C sebesar 5,18%, Imboost 3,64%, dan Now Foods 3,50%.
Keberhasilan Glusela menunjukkan bahwa konsumen saat ini tidak hanya mencari manfaat vitamin C sebagai penunjang daya tahan tubuh. Brand yang mampu menghubungkan vitamin C dengan manfaat tambahan seperti kesehatan kulit, antioksidan, dan wellness harian memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pasar. Fenomena ini sejalan dengan tren konsumen yang semakin melihat suplemen sebagai bagian dari gaya hidup sehat, bukan hanya solusi ketika sedang sakit.
Vitamin C Bukan Lagi Sekadar Produk Imunitas
Data menunjukkan bahwa pasar vitamin C masih memiliki ruang pertumbuhan yang menarik. Konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk produk yang dipercaya memberikan manfaat lebih luas dibanding sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
Bagi brand, peluang terbesar bukan hanya terletak pada klaim peningkatan daya tahan tubuh, tetapi juga pada kemampuan mengaitkan produk dengan kebutuhan wellness, kesehatan kulit, antioksidan, dan perawatan diri secara menyeluruh.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana tren vitamin lain di marketplace? Apakah pola premiumisasi ini juga terjadi pada kategori suplemen lainnya? Temukan jawabannya melalui data dan insight marketplace terbaru bersama Markethac.
Butuh insight lengkap mengenai performa kategori, brand leader, channel terkuat, hingga peluang pertumbuhan pasar? Hubungi Markethac dan dapatkan analisis data yang lebih mendalam untuk kebutuhan bisnis Anda.




