PepsiCo Kembali ke Indonesia setelah 3 Tahun Berhenti, Bagaimana Dampaknya ke Penjualan Snack?

Food and Beverage
•
5 minutes read
•
Thursday, Feb 27, 2025
PepsiCo Kembali ke Indonesia setelah 3 Tahun Berhenti, Bagaimana Dampaknya ke Penjualan Snack?
Source: https://markethac.id

Industri makanan ringan di Indonesia semakin berkembang dengan kembalinya PepsiCo. Kabarnya, perusahaan ini mulai beroperasi di kuartal pertama (Q1) 2025 untuk memproduksi berbagai snack makanan ringan legendaris seperti Cheetos, Lay’s, dan Doritos. Kehadiran PepsiCo diprediksi akan memperketat persaingan di industri makanan snack terlaris, terutama di kategori keripik dan camilan kemasan.

Namun, bagaimana kondisi pasar snack saat ini di e-commerce? Apakah PepsiCo berpeluang menggeser brand produk camilan lainnya? Simak analisis lengkapnya di bawah ini!

1. PepsiCo vs Indofood: Siapa yang Akan Mendominasi Pasar Snack di E-Commerce?

Data terbaru menunjukkan bahwa Chitato, Chiki, dan Maxicorn yang diproduksi oleh Indofood menguasai market share lebih dari 30%, meninggalkan produk PepsiCo seperti Lay’s (1.3%), Cheetos (3.4%), dan Doritos (0.3%). Indofood masih jauh lebih dominan di pasar produk snack terlaris di e-commerce. Keunggulan mereka terletak pada brand yang sudah lebih lama dikenal konsumen Indonesia, jaringan distribusi yang kuat, serta strategi pemasaran yang agresif di marketplace.

Namun, PepsiCo memiliki peluang untuk menggeser Chiki dan Maxicorn dengan strategi distribusi yang lebih luas, promo eksklusif, serta ekspansi produk camilan yang lebih beragam. Dengan keberadaan pabrik baru, PepsiCo bisa menekan harga jual, meningkatkan produksi lokal, dan lebih aktif berpartisipasi dalam campaign marketplace seperti Harbolnas atau Flash Sale.

Bagi brand makanan ringan lainnya, masuknya kembali PepsiCo juga bisa menjadi tantangan sekaligus peluang. Persaingan yang semakin ketat menuntut brand untuk lebih inovatif dalam pemasaran, terutama dalam menghadapi pergeseran pola konsumsi di e-commerce.

2. Makanan Ringan Terlaris di Q4 2024

Dalam persaingan makanan snack terlaris, Chitato masih memimpin pasar dengan 36.69% market share di kategori single pack dan 29.10% di kategori bundling. Dominasi ini menunjukkan bahwa Chitato memiliki loyalitas pelanggan yang kuat, didukung oleh brand awareness dan strategi pemasaran yang efektif.

Keunggulan Chitato juga terlihat dari kemampuannya bersaing di kedua format penjualan. Produk camilan satuan tetap menjadi pilihan utama, sementara strategi bundling mulai menarik perhatian konsumen, terutama menjelang akhir tahun. Dengan tren ini, Chitato bisa memperkuat posisinya dengan menawarkan promo eksklusif dan paket bundling untuk meningkatkan repeat order.

Bagi brand makanan ringan lainnya, strategi bundling dan flash sale bisa menjadi cara untuk meningkatkan volume penjualan di tengah persaingan ketat di kategori ini.

3. Efektivitas Promo Bundling terhadap Penjualan Makanan Ringan

Salah satu tren menarik dalam pasar produk snack terlaris adalah peningkatan pesat pada promo bundling. Data menunjukkan bahwa proporsi pembelian bundling naik dari 18.75% pada November menjadi 36.17% di Desember 2024.

Kenaikan ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk persiapan liburan akhir tahun, meningkatnya kebiasaan belanja dalam jumlah besar, serta promo eksklusif yang ditawarkan marketplace. Konsumen tampaknya lebih memilih membeli snack makanan ringan dalam paket bundling yang lebih ekonomis dibandingkan membeli satuan.

Bagi brand makanan ringan yang ingin memanfaatkan tren ini, menawarkan lebih banyak produk camilan dalam paket bundling bisa menjadi strategi yang efektif, terutama saat momen besar seperti akhir tahun, Ramadan, dan Harbolnas. Kombinasi produk yang menarik dalam satu paket juga dapat meningkatkan nilai tambah di mata konsumen dan mendorong repeat purchase.

4. Channel dengan Kontribusi Terbesar ke Penjualan Makanan Ringan

Shopee masih menjadi platform utama untuk penjualan snack makanan ringan di e-commerce. Data menunjukkan bahwa Shopee menguasai 82.33% penjualan snack bundling dan 81.03% untuk produk satuan. Tokopedia berada di posisi kedua dengan 13.83% (bundling) dan 9.36% (satuan).

Keunggulan Shopee kemungkinan didukung oleh beragam promo seperti Flash Sale, gratis ongkir, dan kampanye bundling eksklusif. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen cenderung lebih aktif berbelanja produk snack terlaris di Shopee dibandingkan platform lain, menjadikannya sebagai saluran distribusi utama bagi brand makanan ringan.

Bagi brand makanan ringan yang ingin meningkatkan penjualannya, fokus pada Shopee dengan strategi harga yang kompetitif, promo bundling, serta kolaborasi dengan Shopee Live dan Flash Sale bisa menjadi langkah yang tepat. Dengan memanfaatkan algoritma marketplace dan meningkatkan visibilitas produk, brand bisa lebih mudah menjangkau audiens yang lebih luas.

5. Brand Makanan Ringan dengan Kontribusi Bundling Tertinggi

Meskipun produk camilan single pack masih mendominasi pasar snack, produk bundling mengalami peningkatan popularitas yang signifikan. Beberapa brand seperti Mamee (25.17%) dan Taro (14.79%) sukses meningkatkan penjualan mereka dengan strategi bundling yang menarik.

Strategi bundling tidak hanya meningkatkan volume penjualan, tetapi juga mendorong repeat purchase dan loyalitas pelanggan. Konsumen lebih tertarik dengan paket yang menawarkan variasi rasa atau harga yang lebih hemat dibandingkan membeli produk satuan secara terpisah.

Ingin tahu lebih dalam tentang tren penjualan snack makanan ringan dan strategi kompetitor di e-commerce? Markethac siap memberikan data real-time dan insight berbasis AI untuk membantumu mengambil keputusan bisnis yang lebih strategis. Dapatkan demo dashboard Markethac sekarang, klik di sini.