Kesehatan gigi anak bukan sekadar soal gigi berlubang. Infeksi gigi dan penyakit gusi dapat berdampak pada kemampuan anak untuk makan, berbicara, hingga belajar. Karena itu, membangun kebiasaan menjaga kebersihan gigi sejak dini menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Hal ini membuat produk oral care anak, termasuk pasta gigi, menjadi kategori yang menarik untuk diperhatikan. Lantas, bagaimana perkembangan pasar pasta gigi anak di Indonesia dan seperti apa preferensi konsumen sepanjang 2026?
Pasar Pasta Gigi Anak Masih Mengalami Perlambatan
Dalam tiga bulan terakhir, pasar pasta gigi anak mencatatkan total penjualan sebesar 159,6 ribu unit. Namun, performanya menunjukkan tren yang terus melemah dari bulan ke bulan. Bahkan, kontraksi semakin dalam pada Juli dengan penurunan unit sold sebesar 29,21% dibandingkan bulan Mei.
Tren ini menjadi sinyal bahwa kategori pasta gigi anak masih menghadapi tantangan dalam mempertahankan demand. Salah satu peluang yang dapat dieksplorasi brand adalah bagaimana membuat produk lebih relevan dan menarik bagi parents, baik melalui inovasi produk maupun strategi penjualan.
Pasta Gigi Single Masih Jadi Pilihan Utama
Dari sisi format produk, pasta gigi yang dijual secara single masih mendominasi pasar. Produk tanpa sikat gigi menyumbang 86,52% share unit sold, sementara bundling pasta gigi dan sikat gigi hanya berkontribusi sebesar 13,48%. Dominasi produk single menunjukkan bahwa parents masih lebih banyak membeli pasta gigi sebagai produk terpisah.
Namun, kontribusi bundling yang sudah mencapai lebih dari satu dari setiap sepuluh unit terjual juga menunjukkan adanya ruang untuk mengembangkan format ini. Bundling dapat menjadi alternatif bagi brand untuk menawarkan kebutuhan oral care anak secara lebih praktis dalam satu pembelian. Strategi ini juga berpotensi meningkatkan jumlah produk dalam satu transaksi sekaligus memberikan value tambahan bagi konsumen.
Pepsodent Jadi Jagoan dari Sisi Volume
Persaingan brand dalam pasar pasta gigi anak cukup terkonsentrasi pada beberapa pemain utama. Berdasarkan volume penjualan, Pepsodent menjadi brand dengan unit sold terbesar, mencapai 38,3 ribu unit atau sekitar 24% share unit sold.
Posisi berikutnya ditempati Enzim dengan 23,9 ribu unit dan 14,98% share unit sold, disusul Metoo dengan 15,1 ribu unit. Jordan dan Kingbaby masing-masing mencatat 13,2 ribu dan 12,2 ribu unit.
Menariknya, posisi brand dapat berbeda jika dilihat dari nilai maupun volume penjualan. Jordan, misalnya, memiliki share GMV yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Pepsodent, tetapi share unit sold Pepsodent hampir tiga kali lebih besar. Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan pada harga jual rata-rata maupun pola pembelian masing-masing brand.
Secara keseluruhan, lima brand teratas berdasarkan GMV, Jordan, Pepsodent, Enzim, GC Tooth Mousse, dan Metoo, menguasai 64,36% share unit sold. Artinya, sebagian besar volume pasar masih terkonsentrasi pada sejumlah pemain utama.
Apa Peluang di Pasar Pasta Gigi Anak?
Meski volume penjualan sedang mengalami perlambatan, pasar pasta gigi anak masih memiliki beberapa ruang yang dapat dieksplorasi.
- Brand dapat mempertimbangkan pengembangan bundling pasta gigi dan sikat gigi sebagai alternatif untuk meningkatkan value dalam satu transaksi. Dengan kontribusi bundling yang masih relatif kecil, format ini memiliki ruang untuk dikembangkan lebih jauh.
- Strategi channel juga perlu menjadi perhatian. Dominasi TikTok x Tokopedia dari sisi volume menunjukkan bahwa platform tersebut memiliki peran penting dalam menjangkau konsumen kategori ini. Namun, performa masing-masing brand menunjukkan bahwa channel yang efektif dapat berbeda-beda.
- Brand perlu memahami bahwa persaingan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki penjualan terbesar. Perbedaan antara market share berdasarkan volume dan nilai dapat memberikan gambaran mengenai harga, positioning, serta pola pembelian konsumen.
Dengan memahami kombinasi antara tren penjualan, format produk, brand, dan channel, pelaku bisnis dapat menemukan peluang yang lebih relevan untuk mempertahankan demand dan mengembangkan kategori pasta gigi anak di Indonesia.
Kesimpulan
Pasar pasta gigi anak di Indonesia masih menghadapi perlambatan, tetapi persaingan antarbrand dan perubahan pola pembelian memberikan sejumlah peluang untuk dieksplorasi. Bagi brand yang ingin memenangkan kategori ini, memahami data e-commerce secara lebih mendalam dapat membantu mengidentifikasi brand positioning, channel, hingga format produk yang paling potensial.
Ingin mengetahui lebih banyak insight tentang pasar pasta gigi anak dan kategori Mom & Baby lainnya? Hubungi Markethac untuk mendapatkan insight e-commerce selengkapnya.




