Orang Indonesia ternyata tidak main-main soal wajah glowing. Sepanjang bulan Januari hingga September 2026, nilai transaksi khusus untuk pasar krim wajah saja sudah sukses menembus angka yang fantastis: Rp 1,38 Triliun dengan total lebih dari 20,9 juta produk ludes terjual!
Banyak orang menebak kalau pasar raksasa ini pasti dikuasai oleh brand lokal yang rajin banting harga atau produk-produk yang kebetulan viral sesaat di TikTok. Tapi tunggu dulu, data transaksi ternyata berkata lain. Siapa sangka, konsumen kita sekarang jauh lebih "sultan" dan rela merogoh kocek dalam-dalam demi kualitas.
Berdasarkan market insight terbaru dari Markethac, berikut adalah bocoran tiga penguasa pasar skincare di kategori krim wajah paling laris di 2026. Mereka sukses bikin banyak kompetitor ketar-ketir!
1. La Roche Posay: Sang Sultan yang Menguasai Takhta
Lupakan asumsi kuno yang bilang kalau skincare murah pasti menang. La Roche Posay sukses menjadi raja krim wajah, menguasai 10.5% pangsa pasar dari omzet. Brand dermatologis asal Prancis ini membuktikan, konsumen Indonesia tidak segan membayar harga premium demi formulasi yang teruji klinis. Mereka tidak ikut-ikutan tren "perang harga", tapi menang telak di rasa percaya.
2. Skin1004: Pesona K-Beauty yang Belum Pudar
Siapa bilang skincare Korea sudah lewat masanya? Gelombang K-Beauty ternyata masih menjadi daya tarik. Skin1004 duduk manis di posisi kedua dengan market share 2.93%. Kombinasi bahan aktif centella asiatica yang diklaim gentle untuk skin barrier ampuh ‘meracuni’ konsumen Indonesia hingga rutin checkout produk mereka.
3. Ms Glow: Ratu Lokal Penguasa Krim Malam
Indonesia tentu saja tetap punya jagoan! Ms Glow menempel sangat ketat di posisi ketiga dengan 2.9% share. Fakta yang paling menarik: meskipun secara overall berada di nomor tiga, Ms Glow adalah penguasa kategori Night Cream (krim malam), mendominasi 8,36% pangsa pasar di segmen tersebut. Saat brand asing sibuk berebut takhta pelembap di siang hari, Ms Glow menemani rutinitas malam jutaan wajah orang Indonesia.
Baca juga: Paket Skincare MS Glow Dominasi Market, Apa Penyebabnya?
Fakta Paling Gila: Diskon Besar Udah Nggak Mempan?
Ada satu rahasia dapur dari data volume Markethac tahun 2026 ini: produk yang laku keras rupanya bukan produk yang diskonnya gila-gilaan!
Tercatat, hampir separuh pendapatan dari penjualan krim malam ternyata berasal dari produk yang dibeli dengan harga normal alias tanpa embel-embel diskon sama sekali. Sebaliknya, produk yang membanting harga dengan diskon di atas 50% hanya mampu menyumbang segelintir omzet (sekitar 6%).
Pola belanja skincare di tahun 2026 sudah bergeser secara drastis. Konsumen kini jauh lebih melek komposisi; mereka tidak gampang tergiur jebakan "Diskon 70% Flash Sale", melainkan murni mencari khasiat, mulai dari glowing finish, mencerahkan, hingga melembapkan.
Para pemilik brand di luar sana sepertinya harus segera berhenti membakar uang kampanye untuk perang harga, dan mulai meracik formula yang benar-benar bisa dibuktikan.
Baca juga: Harbolnas Playbook 2026: Winning Strategies for Skincare & Personal Care
Jangan Biarkan Kompetitor Rebut Market Share-mu!
Tren pasar e-commerce dan kecantikan berubah sangat cepat. Perusahaan yang mengandalkan insting tanpa membedah data kompetitor akan mudah tertinggal.
Ingin tahu lebih detail soal siapa saja kompetitor yang diam-diam menggerus market share brand-mu? Atau butuh data penjualan spesifik untuk kategori produkmu bulan ini?
Dapatkan Full Data Penjualan & Market Share E-Commerce hanya di Markethac sekarang juga!




