Sudah rutin posting, pakai ads, dan kolaborasi dengan KOL, tapi penjualan di TikTok tetap stagnan? Bisa jadi masalahnya bukan di effort, tapi strategi yang belum terintegrasi. Hal ini membuat aktivitas marketing berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang jelas.
TikTok menjadi ekosistem commerce yang bergerak cepat dan sangat dipengaruhi oleh data. Jika strategi organik, ads, dan KOL tidak singkron, maka potensi growth akan sulit dimaksimalkan. Lantas, apa penyebabnya dan bagaimana solusinya?
Mengapa Growth di TikTok Bisa Stuck?
Pertumbuhan yang stagnan sering kali disebabkan oleh pendekatan yang kurang terstruktur. Misalnya konten organik yang dibuat tanpa benar-benar memahami minat audiens dan tren yang sedang naik. Akibatnya, konten hanya lewat di timeline tanpa mendorong konversi.
Di sisi lain, pemilihan KOL atau affiliator kerap dilakukan berdasarkan popularitas semata, bukan performa atau kecocokan dengan target market. Padahal, kolaborasi yang tepat seharusnya mampu memperluas jangkauan sekaligus mempercepat penjualan.
Ads pun dijalankan tanpa memahami insight pasar dan strategi kompetitor. Tanpa evaluasi berbasis data, brand sulit mengetahui apakah biaya yang dikeluarkan bisa menghasilkan GMV yang optimal.
Tiga Fitur TikTok yang Wajib Dimanfaatkan Brand
TikTok sebenarnya sudah menyediakan fitur canggih untuk membuat strategi yang lebih terarah. Berikut di antaranya.
- GMV Max
Fitur ini memungkinkan brand mengatur anggaran iklan berdasarkan target return yang ingin dicapai. Dengan pendekatan berbasis GMV, alokasi budget menjadi lebih strategis karena fokusnya pada traffic dan nilai transaksi. Brand dapat mengontrol performa kampanye dengan lebih presisi.
- TikTok Market Scope
Melalui Market Scope, brand dapat memantau performa iklan, konten organik, kata kunci dan creator yang paling efektif di industri serupa. Fitur ini membantu brand memahami posisi mereka di pasar sekaligus melakukan benchmarking kompetitor. Dengan gambaran yang lebih luas, keputusan marketing menjadi lebih terarah.
- TikTok One
TikTok One memudahkan brand dalam mengelola kolaborasi dengan creator lewat satu platform terintegrasi. Menariknya, TikTok One saat ini telah berkolaborasi dengan Shopee. Brand jadi bisa menjalankan iklan di TikTok, dan biayanya ditanggung penuh oleh Shopee. Dengan begitu, brand bisa memperbesar exposure tanpa membebani anggaran yang dimiliki.
Strategi yang Tajam Butuh Data Lengkap
Memanfaatkan fitur saja belum cukup. Brand perlu memperkaya strateginya dengan data pendukung seperti perubahan harga di TikTok, market share kompetitor, jam flash sales paling efektif, hingga pola diskon dan banner yang sedang aktif.
Kalau ingin memastikan strategi TikTok benar-benar terintegrasi dan berdampak pada penjualan, kamu perlu menguasai data dari sekarang! Klik di sini untuk subscribe Markethac.